Langsung ke konten utama

Postingan

Sekilas Tinta

Aku pernah menyeret diriku untuk tidak meyakini keadaan tetapi karena aku bertahan di keadaan tersebut, aku mulai terbiasa walau sebenarnya keadaan tersebut memang pantas untuk tidak diyakini. lalu jika keadaannya tidak bisa diubah, apa yg sekarang harus aku lakukan karena aku telah menyelisihi dasar hatiku. ??? aku telah berkhianat kepada hati kecilku sendiri dan amat menyesalinya. €€€€ hai kamu, aku hanya ingin hidup normal koq sebagai istri, pendamping siapapun yang menjadi pasanganku. tapi kamu, mengapa seberat itu untuk menyesuaikan frekuensi denganku? aku sangat menghargai hubungan maka jika belum sefrekuensi, aku menarik kamu agar sefrekuensi denganku tetapi kamu tidak mau, menolak mentah-mentah, bahkan mencelaku kau katakan "aku ini suamimu bukan anakmu! ga usah maksa-maksa aku sesuai harapan keinginanmu!! bentuk saja anak-anakmu, hanya anak-anakmu seperti maunya kamu." sejujurnya aku tidak bisa percaya dia lagi. tapi hidupku hari ini masih bergantung denganny...

Rupanya Aku Sempat Jatuh Hati

Di antara kios mie ayam bangka dan rental komputer, aku tinggal. Deretan samping kampus negeri di Jakarta. Kontrakan 4 petak yang terdiri dari teras depan, ruang tamu bersekat dengan kamar tidur tempat kami menaruh kasur lipat, lalu kamar mandi yang berukuran sepertiganya kamar tidur. Aku tinggal di sana tahun 2009 dan 2010 saat semester 4 dan 5 bersama Natra dan Novi dari jurusan lain. Jadi kami menyebutnya Kosan 3 N: Natra, Novi, Nina. Nina pertama menikah, lanjut Novi menikah dan terakhir Natra menikah dengan teman KKN kami. Novi sudah menjadi karyawan BPPT sekarang. Nina berwiraswasta, dan aku tidak tahu kabar Natra sekarang. Saat itu, aku sedang mengerjakan tugas kuliah. Merangkum jawaban esai, soal dari dosen. Sampai kemudian Natra memanggilku. "Nin, ada yang nyari tuh di pager!" Aku merasa heran. Tak terpikir siapa yang menyambangi kosanku di hampir maghrib begitu. Aku merasa tanggung untuk menyelesaikan nomor tugasku. 'Laki-Laki??' Novi dan Natra saling be...

Jangan Menjadi Seperti Radwati

Radwati adalah seorang wanita kelahiran 1953 yang menikah dengan seorang pria agak tua selisih 10 tahun di atasnya. Setelah Radwati menikah, ia memiliki 3 orang anak yang kesemuanya mendapatkan limpahan kasih-sayang. Suami Radwati seorang pekerja di bank pemerintah, dulunya. Radwati masih berusia 22 tahun saat mengenal suaminya, Bambu. Bambu seorang pria keturunan Madura yang bertubuh gempal, berambut keriting, dan berbulu lebat di banyak bagian tubuhnya. Bambu adalah suami yang baik. Ia tidak pernah berputus-asa dan pekerja keras agar kelak anak-anaknya bisa hidup berkecukupan. Bambu dan Radwati memberi nama anak pertama mereka Doni, Rima, dan Arif. Radwati termasuk perempuan berkemauan kuat sehingga saat anak-anaknya tersudut, ia akan membela mati-matian sehingga anaknya lupa berintrospeksi dan menganggap masalahnya sudah tuntas. Radwati lupa mengaharkan kepada anaknya arti menyayangi orang lain, arti kepekaan, juga solidaritas. Rasa sayang Radwati ke anak-anaknya menyebabkan...

Bukan Pernikahan Paksaan

Masih saja Tiana meratapi rasa sedihnya pisah dengan teman baiknya sewaktu di bangku kuliah. Ia dinikahkan dengan seseorang yang lain yang baru ia kenal. Tiana menerima karena menghargai pilihan yang datang melalui teman ibunya. Tentunya ini membawa konsekwensi tersendiri di hati seorang Tiana. Siapa sangka, Tiana yang kalau orang luar melihatnya ramah, lembut, tidak suka membahas aib orang lain, kini menjadi berseberangan. Tiana bercerita kepadaku bahwa sebelum ia menggelar acara lamaran, saat ia akan ke pasar grosir untuk membeli perlengkapan seserahan bersama calon suaminya, tas dompetnya terhempas di mana di dalamnya ada KTP, SIM A, SIM C, Kartu mahasiswa, kartu perpustakaan kampus, kartu donor darah, dan kartu ATM. Sebelum menikah, Tiana tak mengira itu hanya firasat. Namun setelah menikah dengan seseorang yang bukan harapannya, Tiana baru menyadari bahwa kejadian itu mungkin adalah upaya Tuhan untuk memberitahu sesuatu. Tiana dan suaminya hanya beda dua tahun. Keduanya semp...

Seperti Pernikahan yang Seharusnya

Mengenal orang yang kemudian kita panggil pasangan hidup, itu berlangsung seumur hidup. Tidak cukup bagi kita untuk mengenalnya hanya sebulan dua bulan. Karena fase kehidupan selalu bergulir dan itu memerlukan penyikapan yang benar. Yang menjadi masalah kemudian adalah bukan dari masalahnya tetapi cara menyelesaikannya. Hampir saja saya menggugat untuk melepas status. Sudah tanya-tanya ke konsultan hukum malah. Waww banget ya. Yang harus kita ingat, iblis itu berpesta dan bersuka-ria jika berhasil merusak hubungan pernikahan yang di dalamnya ada anak. Yang harus kita perhatikan adalah, bagaimana menjaga pernikahan biar langgeng. Berarti kita harus berupaya menyenangkan pasangan karena lambat-laun, rasa cinta itu pasti terkikis. Kesenangan hati, rasa bahagia bersama keluarga itu harus dihidupkan sehingga api pernikahan tidak padam. Kalau kita selaku pasangan senantiasa buat kekecewaan, hal yang bikin pasangan hilang rasa, tidak mustahil pernikahan menjadi rusak, termasuk g...

Syukur

Jam menunjukkan pukul 21.15. Anak nomer 2 dan ayahnya sudah tidur. Anak nomer 1 nginep di rumah neneknya. Anak nomer 3 masih dalam dekapan saya. Saya sedang menyusui. Dipikir-pikir, Allah telah menitipkan semua yang baik pada saya. Ada anak-anak yang bikin ramai rumah walau banyak cerita suka-dukanya, ada suami yang baik memberikan nafkahnya, ada rumah tempat berteduh walau bukan rumah yang besar dan berhalaman luas, ada orang tua, ada adik-adik yang bisa divideocall kalau kangen, ada dua kakak ipar perempuan yang baik dan pintar, juga kakak ipar laki-laki yang pembela, juga ada ibu mertua yang tegar ditinggal dua anaknya merantau ke kota metropolitan. Alhamdulillah.. hanya Alhamdulillah, Allah memberikan skenario yang indah. Tapi menurut Al-Qur'an, dunia ini tempatnya ujian. Ada ujian kesenangan, juga ada ujian kepahitan. Orang yang tidak dititipi anak bukan berarti itu buruk untuk dirinya. Allah punya cara terbaik dalam menuntun manusia menuju keridhoan-Nya. Jangan bersedih,...

Bayiku Konstipasi ?? (1)

Apa sih konstipasi? Konstipasi itu sembelit. Susah keluarkan feses dari tubuh manusia. Setelah saya konsul di Alodokter oleh dokter, konstipasi pada bayi dapat dipengaruhi oleh 3 hal, yakni: 1. Sufor yg tidak Cocok 2. Asupan makanan yang kurang serat, kurang minum air putih 3. Infeksi bakteri/virus. Yang rasanya nyess di hati sy yaitu poin nomer 2. Rasa-rasanya saya juga memberikan buah dan sayur tapi saya terlalu bersemangat memberikan bubur beras matang yang saya beli 1 cup seharga Rp5.000,- Tersadar kembali bahwa MPASI adalah kepanjangan dari "Makanan Pendamping" ASI. peran pendamping tidak lantas menjadi yg utama. Yang utama tetaplah pemberian ASI pada setiap dua jam sekali (ini versi saya). Sehingga jadwalnya: ASI jam 6 pagi, mandi jam 7 pagi, MPASI jam 8-9 pagi, jam 10 pagi tidur pagi/main, jam 11-12 MPASI sayur buah (brokoli, ubi, wortel, buah naga, semangka, pisang)..kalau bayi masih lapar kembali bubur sehat. jam 13 tidur siang , jam 14 cemilaan puding, atau buah ...